Posts Tagged ‘fakta berita’

Fakta dan Nilai Berita October 27th, 2012

Seperti dijelaskan Jakob Utama (1987), berita itu  bukan fakta,  berita adalah laporan tentang fakta (view),  maka setiap wartawan harus mampu  mengumpulkan dan memilih fakta  layak berita. Mereka harus mampu mengenali  setiap fakta dan mampu menentukan  fakta yang memiliki nilai berita (news value).

Fakta adalah realita atau kenyataan, “hal (keadaan, peristiwa) yg merupakan kenyataan; sesuatu yang benar-benar ada atau terjadi” (KBBI).  Realita itu bisa berupa: 1)  fakta peristiwa, yaitu sebagaimana terjadinya peristiwa tersebut, dan  2)  fakta pendapat, yaitu sebagaimana disampaikan manusia, baik secara lisan maupun tulisan.  Keterangan  tentang peristiwa sebagaimana diceritakan orang lain, termasuk fakta pendapat.

Peristiwa yang terjadi di dunia terdiri dari peristiwa terduga dan peristiwa tidak terduga. Peristiwa terduga, yaitu bisa diduga kapan dan dimana akan terjadi.  Contoh:   peristiwa olahraga,  acara serimonial (ulang tahun, serah terima jabatan, dsb),  sidang (parlemen,  pengadilan, kabinet, dsb),  seminar/diskusi/lokakarya, pertunjukan seni, fenomena alam (gerhana),  pameran/open house,  dan acara keagamaan (idhul fitri/adha, natal, dsb). Peristiwa tidak terduga, yaitu tidak bisa diduga kapan dan dimana akan terjadi.  Contohnya: bencana alam,  musibah (kecelakaan/kematian), dan kejahatan.

Sedangkan pendapat yang biasa dijadikan berita adalah: pendapat manusia tentang peristiwa yang dialaminya,  pendapat tentang peristiwa yang disaksikan,  pendapat tentang peristiwayang ditangani,  pendapat (ahli) tentang suatu hal, dan pendapat (sumber name makes news) tentang dirinya.

Nilai Berita (News Value)

Tidak semua peristiwa yang terjadi di dunia ini layak diberitakan.  Juga tidak semua pendapat yang dikemukakan manusia layak dijadikan berita.  Seperti dikemukakan Charnley  (1979): “News is the timely report of  fact or opinions that hold interest or importance, or both, for a considerable number of people” (view). Dengan demikian,  peristiwa dan pendapat manusia yang layak diberitakan hanya yang “menarik dan atau penting” bagi khalayak.   

Charnley menjelaskan, peristiwa atau pendapat dikatakan penting jika berpengaruh terhadap kehidupan sosial dan ekonomi khalayak. Sedangkan peristiwa dan pendapat yang manarik, jika berpotensi membangkitkan emosi khalayak, misalnya sedih, marah, gemas, jengkel, dan gembira.  Menurut berbagai literatur tentang jurnalistik, peristiwa yang menarik dan atau penting tersebut digolongkan sebagai fakta yang mengandung nilai berita (news value).

Para ahli jurnalistik mengindikasikan, ada beberapa faktor yang bisa dijadikan alat ukur untuk menentukan suatu fakta memiliki nilai berita, antara lain sebagai berikut:

ð  Donald H. Johnston: timeliness, proximity, conflict, prominence, consequence, magnitude, others element (sex, helplessness, loneliness, injustice, humor, brutality)

ð  Paul D. Maeseneer: timeliness, nearness, conflict, prominence, government action, development news, human interest, weather, sport.

ð  Douglass Wood Miller: timely, wellknow names, story of combat of struggle between opposing force, familiar subjects, magnitude and significance event, human interest incidents, animal stories.

ð  Djafar H. Assegaff: termasa, jarak (dekat jauhnya), penting (ternama), keluarbiasaan, akibat, ketegangan, pertentangan, seks, kemajuan-kemajuan, emosi, dan humor

ð  Sarah Niblock: Impact, newness, exclusivity, unusual people, conflict, unpredictable, talking Point, geography/proximity, accessibility

Berdasarkan pendapat para ahli tersebut bisa disimpulkan, bahwa faktor yang mempengaruhi nilai berita adalah sebagai berikut:

  1. Aktualitas (timely, timelines, newness, termasa). Aktualitas ini sangat ditentukan oleh kecepatan berita sampai ke khalayak serta sudah/belum diketahui oleh khalayak. Makin cepat berita itu sampai ke khalayak, maka makin tinggi nilai berita itu baginya. Makin baru dan belum diketahui oleh khalayak, maka makin tinggi nilai berita itu bagi mereka.
  2. Kedekatan (proximity, nearness, geography, jarak). Kedekatan ditentukan oleh jarak tempat tinggal khalayak dengan peristiwa. Makin dekat peristiwa yang diberitakan itu, maka  makin tinggi nilai berita tersebut bagi khalayak. Kedekatan juga ditentukan oleh kedekatan psikologis dengan subjek yang ada dalam fakta.
  3. Akibat (consequence, magnitude and significance event, dampak, impact). Semua hal yang memiliki dampak pada kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat layak diberitakan. Makin besar dan luas dampak fakta itu bagi khalayak, maka nilai berita tersebut akan makin tinggi.
  4. Keterkenalan (prominence,  wellknow name, penting/ ternama, familiar subjects, unusual people). Segala sesuatu tentang orang terkenal (name makes news) atau tentang tempat atau sesuatu yang dikenal luas (familiar subjects) akan memiliki daya tarik bagi khalayak.  Maka segala sesuatu yang berhubungan/menyangkut orang atau tempat terkenal akan selalu menarik untuk diberitakan.
  5. Pertentangan (perseteruan, conflict, story of combat of struggle between opposing force).  Semua hal menyangkut pertentangan akan menarik bagi khalayak. Makin besar dan makin luas dampak pertentangan tersebut, makin tinggi nilai beritanya bagi khalayak.
  6. Keanehan (bizarre, unusual event). Segala sesuatu yang tidak biasa terjadi atau yang aneh tentu memiliki daya tarik tersediri bagi khalayak. Ingat definisi beita paling klasik: If a dog bites a man, there is no news, but if a man bites a dog, there is front page material.
  7. Seks.  Biasanya semua fakta yang ada hubungannya dengan unsur seks akan selalu menarik bagi khalayak. Termasuk di sini peristiwa perselingkuhan, pamer bentuk tubuh, dan termasuk foto/adegan syur, apalagi bila menyangkut  orang terkenal.
  8. Human interest (humor,  helplessness, loneliness, injustice, brutality). Segala sesuatu yang berkaitan dengan manusia,  suka duka dan perjuangan hidup manusia, cerita tentang gambaran kehidupan manusia akan  menarik bagi khalayak

Referensi:

  1. Assegaff, Dja’far H.,  Jurnalistik Masa Kini; Pengantar Ke Praktek Kewartawanan, Ghalia Indonesia, Jakarta, Edisi pertama 1983.
  2. Charnley,  Michel V. dan Blair Charnley, Reporting, Holt, Rinehart and Winston,  New York, Edisi keempat, 1979.
  3. Johnston, Donald H Journalism and the Media,  Barner and Noble Books,  A Devision of Harper & Row.Publisher,  New York, 1979.
  4. Keebe, Richard (Ed), Print Journalism, Routledge, London, 2005
  5. Maeseneer, Paul De, Here’s The News; A Radio News Manual, Unesco, 1986.
  6. Mencher, Melvin,  Newsreporting and Writing,  Wm.  C. Brown  Publishers,   Iowa, 1986.
  7. Miller, Douglass Wood, The News Slant and  the Reporter, dalam  George Fox Mott,  et. al, New Survey of Journalism,  Barnes & Noble, Inc., USA, 1957
  8. Oetama, Jakob, Reportase Komprehensif  dalam Jakob Oetama, Perspektif Pers Indonesia, LP3ES, Jakarta, 1987.

Continue reading...


 

Menyoal Akurasi Berita January 2nd, 2012

Pengantar

arje

arje

Bagi kalangan jurnalis (wartawan), akurasi merupakan faktor sangat penting yang harus diperhatikan.  Seperti dikemukakan Sarah Niblock (2005:100), “Accuracy is not only legal and ethic reason, but also protect the integrity of the newspaper and the reporter team”.   Dengan demikian, pemenuhan syarat akurasi bagi wartawan dan juga media, bukan hanya untuk memenuhi ketentuan hukum maupun etika, tapi lebih penting dari itu, untuk melindungi profesi mereka sendiri.

Jurnalis yang mengabaikan akurasi sama saja dengan melakukan pelecehan terhadap integritas profesi mereka sendiri,  karena akan menghilangkan kredibilitas mereka di mata khalayak. Seperti dikemukan Irvin (dalam Fleming dkk, 2006:50), “In news reporting credibility is everything it is easy  to lose and difficult to get back. Inaccuracies  will lose you credibility and readers faster than anything else. They may also cost you a lot  of money”.  Semua wartawan sangat meyakini hal ini, bahwa kredibilitas itu gampang sekali lenyap dan sulit memulihkannya. Yang paling cepat melenyapkan kredibilitas adalah ketidakakuratan.

 

Bagaimana  Akurasi Itu?

Kata “akurat” secara harfiah berarti “tepat”. Akurasi berarti ketepatan. Di kalangan wartawan, ketentuan tentang akurasi ini tertuang dalam Pasal 1 Kode Etik Jurnalistik. Menurut penafsiran Kode Etik Jurnalistik  Pasal 1b,  “akurat”  adalah “dipercaya benar sesuai keadaan objektif ketika peristiwa terjadi” (Dewan Pers, 2008:47).  Dengan demikian, penyampaian berita maupun opini oleh wartawan harus sesuai fakta yang sesungguhnya. Untuk mendapatkan fakta yang benar tidak mudah, sehingga diperlukan usaha sungguh-sungguh dalam menggali fakta dari setiap sumber berita yang relevan.

Misalnya,  dalam meliput suatu peristiwa, yang pertama harus dilakukan  adalah membuktikan benar telah terjadi suatu peristiwa yang dimaksud. Dia harus yakin bahwa peristiwa itu benar adanya dan bukan hasil rekayasa.  Peristiwa reka ulang, jelas tidak sama dengan peristiwa sebenarnya,  karena sudah mengalami penafsiran, sehingga  fakta hasil reka ulang sudah mengalami erosi (pengurangan) atau distorsi (penambahan) dari pembuat reka ulang itu.

Pedoman wartawan dalam meliput fakta  sangat sederhana, hanya berupa pertanyaan “5W+1H”. Tapi untuk memperoleh jawaban atas pertanyan “What, Who, Where, When, Why, dan How” tidak semua wartawan mampu melakukannya.  Maka, ketika menyaksikan peristiwa, wartawan tidak boleh hanya puas memperoleh  fakta tentang: “apa yang terjadi” dan  “siapa saja yang terlibat dalam peristiwa itu”, tapi  juga harus mampu mengetahui “apa yang sesungguhnya terjadi” dan “siapa saja  di balik kejadian itu?”.  Wartawan harus juga mencatat secara cermat “dimana dan kapan” peristiwa itu terjadi.

Kadang untuk mencari fakta tentang “apa dan siapa”  tersebut cukup mudah, tapi kadang memerlukan kerja keras untuk mendapatkannya. Contoh dalam “kasus pelesiran Gayus ke luar negeri”, wartawan sampai saat ini belum berhasil mengungkap fakta “apa saja yang dilakukan Gayus di luar negeri dan siapa saja yang ikut membantu Gayus sampai ke sana?”

Dalam meliput peristiwa, wartawan tidak boleh berhenti pada pertanyaan “apa, siapa, dimana, dan kapan”, tapi dia juga  harus mengetahui secara detail “bagaimana” proses sebelum peristiwa terjadi, proses berlangsungnya peristiwa, dan bagaimana kelanjutan peristiwa itu. Juga tak kalah penting,  harus mampu mengungkap  penyebab (latar belakang) “sesungguhnya” sehingga peristiwa itu terjadi.

Menemukan latar belakang peristiwa ini tidak mudah,  sehingga memerlukan ketelatenan wartawan dalam mengungkapkannya. Kadang di balik peristiwa  yang terlihat biasa akan ditemukan fakta yang luar biasa. Misalnya di balik peristiwa kecelakaan beruntun yang disebabkan  oleh   adanya mobil mengerem mendadak, sebenarnya karena adanya struktur jalan yang keliru sehingga (dalam kondisi tertentu) bisa menyebabkan sopir yang lengah akan  mengerem mendadak.  Begitu juga pada peristiwa kerusuhan, kadang di balik kerusuhan yang terjadi akibat masalah sepele “saling ejek”, ternyata penyebab sebenarnya adalah karena adanya dendam turun-temurun, yang hanya menunggu  “pemicu kecil”  akan terjadi ledakan besar.

Pengungkapan latar belakang tersebut akan lebih sulit jika peristiwa terjadi itu karena dirancang oleh manusia. Contoh paling spektakuler tercatat dalam sejarah jurnalistik adalah “Peristiwa Watergate”.  Peristiwa tersebut awalnya terlihat seperti peristiwa biasa, yaitu lima pencuri tertangkap memasuki kantor Komite Nasional Partai Demokrat di gedung Watergate Washington DC, 16 Juni 1972Kisah itu akan berakhir menjadi berita kriminal biasa, seandainya tidak ada dua wartawan Washington Post,  Bob Woodward dan Carl Bernstein yang menemukan adanya kaitan hubungan pencuri itu dengan Presiden Richard Nixon. Berkat kerja keras dua wartawan tersebut bisa dibuktikan,  peristiwa pencurian itu  dilakukan untuk menyadap percakapan politisi Partai Demokrat yang dilakukan oleh Tim Sukses Presiden Nixon.

Untuk mendapatkan fakta pendapat jauh lebih sulit. Pertama harus dilakukan wartawan adalah mencari nara sumber yang memenuhi syarat “kompeten dan kredibel” untuk diminta pendapat/keterangannya. Kedua syarat tersebut harus terpenuhi, karena kalau sumber itu hanya kompeten tapi tidak kredibel, pasti tidak akan menyampaikan fakta  yang akurat. Dia cenderung akan menutupi atau bahkan membelokkan fakta yang dia ketahui. Begitu juga kalau sumber itu hanya kredibel tapi tidak kompeten, tentu fakta yang dia sampaikan  hanya sebatas yang dia ketahui, yang tentu tidak lengkap bahkan keliru.

Mencari sumber berita yang memenuhi syarat kompeten dan kredibel tidaklah mudah. Apalagi untuk memenuhi target pemberitaan yang harus disiarkan segera.  Mungkin karena alasan inilah maka TV-One pernah “tergoda” merekayasa sumber berita yang seolah-olah kompeten. TV-One dalam siaran dialog tanggal 24 Maret 2010 mewawancara langsung Andris Ronald sebagai “makelar kasus”, namun belakangan terbukti,  Andris tersebut hanyalah “makelar kasus palsu” (www. okezone.com, 9 April 2010).

Meliput fakta pendapat memerlukan ketelitian ekstra. Wartawan tidak boleh merasa cukup hanya mencatat “apa yang diucapkan” oleh nara sumber, tapi harus memahami “apa maksud” ucapannya itu.  Juga harus diselidiki “apakah yang diucapkannya itu benar adanya?”.  Begitu juga ketika mencatat tentang  “siapa”, wartawan tidak cukup hanya mengetahui tentang nama, usia, jabatan, pendidikan, dan atribut lain tentang nara sumber, tapi harus tahu “sumber ini bicara sebagai siapa?”. Apakah dia mewakili pribadi, mewakili organisasi/instansi, atau sebagai calon legislatif yang sedang merebut simpati khalayak?.

“Dimana” dan “kapan” nara sumber tersebut menyampaikan pendapatnya juga penting diperhatikan. Apakah sumber menyampaikan pernyataannya itu di Gedung Parlemen ketika menyampaikan pidato menjelang tahun baru, di ruang pertemuan saat konferensi pers, di restoran ketika diwawancara khusus oleh wartawan, atau di ruang sidang pengadilan ketika bersaksi dalam kasus tertentu?  Wartawan juga harus mencatat “bagaimana” cara nara sumber  menyampaikan pernyataan itu?  Apakah nara sumber menyampaikan hal itu sambil marah-marah, santai sambil becanda, atau dengan roman muka tegang sambil celingukan?

Selain itu, yang tak kalah penting, wartawan harus mampu mengungkapkan “mengapa” nara sumber menyampaikan pernyataan seperti itu.  Artinya di sini, wartawan harus mampu mengungkapkan latar belakang mengapa nara sumber menyampaikan pernyataan tersebut. Apakah dia menyampaikan pernyataan itu karena didesak oleh wartawan, ingin menjelaskan persoalan tentang dirinya yang telah diberitakan pers, ingin mengharapkan suara masyarakat agar memilihnya, atau karena adanya hubungan dengan peristiwa masa lalu yang belum terungkap selama ini.

Mengungkapkan unsur “mengapa’ ini tidak boleh asal  tebak atau dengan cara menduga-duga, meski hal itu dilakukan berdasarkan logika.  Kadang penyebab sesungguhnya tersimpan di lubuk hati nara sumber paling dalam, sehingga memerlukan kemampuan khusus bagi wartawan untuk mengungkapkannya.

Sebagai contoh  kasus “pernyataan Benny K Harman”. Tanggal 11 Januari 2011, Ketua Komisi III DPR RI tersebut mengungkapkan, mantan Kapolri Bambang Hendarso Danuri pernah menyampaikan kepadanya: “Jika kasus mafia pajak Gayus Tambunan dibongkar akan mengguncang stabilitas politik dan ekonomi”.  Keesokan harinya Benny meralat pernyataan itu dengan mengatakan,  apa yang diucapkannya kemarin hanya tafsiran pribadinya (liputan6.com, 12 Januari 2011). Benny memang menjelaskan “mengapa” dia mengucapkan pernyataan itu dan “mengapa” pula dia meralatnya, namun apakah masyarakat percaya dengan alasan demikian?

 

Menyampaikan Fakta secara Akurat

Persoalan akurasi bagi wartawan tidak hanya terbatas pada bagaimana mengumpulkan fakta secara akurat, tapi juga bagaimana fakta itu bisa disajikan secara akurat sehingga khalayak mampu memahami fakta tersebut apa adanya. Seperti diingatkan  Al Hester (1987:67),  “Journalistic writing  is writing to give the reader understanding or informaton he or she  didn’t  previously. If the reader can’t comprehend what is in your news story, then no communication has taken place. Or if  the reader gets bored, irritated or puzzled by your story, he or she will most likely go on to something else more interesting”.

Dengan demikian, bagi wartawan, menulis itu bukan hanya sekedar menulis, tapi juga mengusahakan agar tulisan tersebut dibaca dan dipahami apa adanya. Salah satu upaya yang harus dilakukan wartawan adalah mengusahakan agar berita yang disajikannya tersebut akurat.  Seperti dikemukakan Charnley & Charnley (1979:33), “Accuracy mean literally that every element in a news story, every name and date and age and address, every definitive word or phrase or sentence, is an unequivocal statement of a verifiable reality. Not only that, it mean fidelity in the general impression given by the way detail are put together and by the emphases put on them”. 

Hal senada dikemukakan Dewabrata (2004:103-104), bahwa:

Akurasi di sini meliputi juga ketepatan mengutip pernyataan sumber berita maupun data dan fakta: (a) penulisan nama berikut identitas-identitasnya sepert gelar keningratan, gelar akademis, gelar keagamaan, jabatan resmi maupun tidak resmi, agama yang dianut, sebutan (maksudnya di sini sebutan macam pengamat sosial, pelukis kontemporer, termasuk juga julukan, dan sebagainya), jenis kelamin, tanggal lahir, umur; (b) angka yang meliputi soal jumlah, urutan/nomor, ulangan beberapa kali, ukuran panjang-tinggi-lebar-isi-luas, ukuran pakaian-sepatu-dan lain-lain; (c) kelas dan mutu  untuk kapal dan barang-barang lainnya; (d) jenis kenderaan serta merknya; (e) jenis dan merk barang; (f) dan banyak lagi.

Banyak wartawan tidak menyadari hal itu, sehingga mereka  sering tidak cermat dalam memilih kata dan atau kalimat yang tepat  dalam mengungkapkan fakta.  Contohnya antara lain  terjadi dalam berita berikut:

Berita Kota, 15 November 2008 hal 4 kol 1-2
Tewas Tertabrak Kereta

JAKARTA PUSAT. Seorang pria tanpa identitas ditemukan tewas terlindas kereta api di lintasan rel  Stasiun Duku Atas, Tanah Abang, Jakarta Pusat, Jumat (14/11). Korban meregang nyawa dengan kondisi bagian kepala hancur dan usus terburai. Mayat pria malang ini kemudian dikirim ke RSCM.

Keterangan yang diperoleh, naas yang menimpa korban bermula saat dia sedang menyeberang rel di lokasi kejadian. Tanpa disadarinya, tiba-tiba datang kereta api dari arah Manggarai menuju Tanah Abang dengan kecepatan tinggi. Korban yang tak  sempat lagi menghindar akhirnya tertabrak salah satu gerbong kereta. Tubuhnya terpental sejauh 10 meter dan tewas seketika di lokasi.

Tak lama berselang, petugas yang datang ke lokasi kemudian mengirim mayat pria malang itu ke RSCM. ©ram

Berita tersebut hanya terdiri dari tiga alinea, namun  paling tidak terdapat sembilan ketidakakuratan, sebagai berikut: 1) pada judul tertulis “tewas tertabrak”, tapi di alinea satu ditulis “terlindas; 2) pada alinea satu tertulis “meregang nyawa”, tapi di alinea dua ditulis “tewas seketika”; 3) pada alinea satu tertulis “Stasiun Dukuh Atas, Tanah Abang, Jakarta Pusat”, padahal Stasiun Dukuh Atas itu tidak berada di Tanah Abang, Jakarta Pusat; 4) pada alinea satu tertulis “bagian kepala hancur”, tidak jelas di bagian yang mana?; 5) pada alinea satu tertulis “mayat … dikirim ke rumah sakit”, padahal tidak mungkin mayat itu “dikirim”; 6) pada alinea dua tertulis “keterangan yang diperoleh”, tidak jelas diperoleh dari siapa?; 7) pada alinea dua tertulis “tiba-tiba datang kereta api”, padahal  tidak mungkin kereta api datang tiba-tiba; 8) masih di alinea dua tertulis “tertabrak salah satu gerbong kereta”, padahal tidak mungkin bisa tertabrak hanya salah satu gerbong; dan 9) pada alinea tiga tertulis “petugas yang datang”, tidak jelas petugas apa?.

Penutup

Berdasarkan uraian di atas terlihat,  akurasi seharusnya menjadi faktor utama yang harus diperhatikan wartawan. Mereka harus menyadari, mendapatkan fakta akurat tidak mudah, kadang perlu upaya sungguh-sunguh untuk mendapatkannya.  Perlu cek dan ricek (check and double check), validasi, dan verifikasi terhadap fakta yang diperoleh.

Tentu tidak mungkin berharap wartawan menyajikan fakta 100% akurat. Sebagaimana dikemukakan Fleming, et al (2006:50),

No one is perfect and no news reporter can honestly say that inaccuracies have never. Crept into their work. The trick is to keep those mistakes to an absolute minimum and to aim for 100 per cent accuracy. No forget will do. If you don’t know something is true, or you have no official source to rely on, then don’t put in or,  in very rare cases, put it in but makeit clear that it is potentially inaccurate”

Namun alasan bahwa “manusia itu tidak ada yang sempurna” tidak boleh dijadikan alasan  untuk bisa menyajikan berita yang tidak akurat.  Wartawan harus mengupayakan, kalaupun ada ketidakakuratan, harus ditekan seminim mungkin, yaitu dengan cara menggali fakta secermat mungkin  lalu  disajikan seakurat mungkin.

Referensi:

Al Hester (1987), The Need to Say It  Simple, dalam Al Hester & Wai Lan J. To (Ed),  Handbook fo Third World Journalist, Henry W. Grady  School of Journalism and Mass Communication, The University of Georgia, Athens.

Charnley, Mitchell V. dan Blair Charnley (1979), Reporting, Holt, Rinehart and Winston, New York.

Dewabrata, A.M. (2004), Kalimat Jurnalistik: Panduan Mencermati Penulisan Berita, Kompas, Jakarta.

Dewan Pers (2008), Profil Dewan Pers 2007-2010, Dewan Pers, Jakarta

Flemming, Carol, et al, (2006), An Introduction to Journalism, SAGE Publication Ltd., London.

Niblock, Sarah (2005), Staying calm under pressure, dalam Richard Keeble (2005), Print Journalism: a critical introduction, Routledge, London.

www.liputan6.com

www.okezone.com

 

Continue reading...