Posts Tagged ‘berita infotainment’

Menyoal Nilai Berita tentang Eyang Subur April 6th, 2013

eyang_subur_liputan6

Eyang Subur – liputan6

Sebelum Adi Bing Slamet mengungkapkan nama Eyang Subur  di media massa, tidak banyak  orang mengenal tokoh kontroversial tersebut.  Meski banyak pengikutnya dari kalangan pesohor, tapi nama Eyang Subur hanya dikenal di lingkungan pengikut dan tetangganya saja.  Contohnya, sebagian besar dosen dan mahasiswa Universitas Esa Unggul belum mengenal nama Eyang Subur,  padahal rumah si Eyang hanya beberapa meter dari pagar Esa Unggul serta beberapa anak  dan cucu Eyang kuliah di kampus  tersebut. 

Keadaan langsung berubah total sejak Adi Bing Slamet berkoar di media massa. Semua tuduhan Adi terhadap mantan guru spiritualnya itu langsung jadi berita, sehingga dalam waktu singkat, nama Eyang Subur terkenal di seantero Indonesia.  Semua media, terutama infotainment, berlomba menggali berita berkaitan dengan ‘sosok misterius’ tersebut. Bahkan berita tentang Eyang Subur menyaingi berita tentang Kongres Luar Biasa Partai Demokrat di Bali.

Meledaknya pemberitaan tentang Eyang Subur  sangat wajar dalam dunia jurnalistik. Soalnya, kasus ini memiliki nilai berita (news value) sangat tinggi karena memenuhi semua faktor nilai berita (read: Fakta dan Nilai Berita), sebagai berikut: (more…)

Continue reading...


 

Menyoal ‘Wartawan Infotainment’ October 15th, 2012

Sampai saat ini masih terjadi silang pendapat, apakah wartawan infotainment layak disebut wartawan?  Pasalnya, sebagian besar mereka yang mengaku sebagai wartawan infotainment hanya bekerja di producing house, bukan pada  media yang memberitakan hasil kerja mereka.   Juga dalam melaksanakan liputan, mereka sering dianggap melanggar  hak privasi sumber berita.

Tidak ada definisi pasti tentang wartawan infotainment, bahkan dalam bahasa Inggris tidak ada kata “infotainment”. Istilah ini hanya merupakan singkatan dari kata (bahasa Inggris) “information” dan “entertainment”, yang dimaknai sebagai “informasi yang dikemas dalam bentuk hiburan” atau “informasi mengenai selebritas dan dunia hiburan”. Dengan demikian, semua wartawan bisa saja disebut wartawan infotainment karena semuanya pernah meliput tentang selebritas dan dunia hiburan.

Memang yang dikenal masyarakat sebagai “wartawan infotainment” hanyalah mereka yang meliput tentang artis dan peristiwa seputar selebritas. Lebih spesifik lagi, mereka yang bekerja di “production house” yang memproduksi informasi untuk program “berita infotainment” di televisi.

Pemahaman seperti inilah yang menyebabkan tidak semua orang mengakui wartawan infotainment sebagai wartawan. Bahkan AJI (Aliansi Jurnalistik Independen) secara tegas menyatakan, mereka itu bukan wartawan. Alasannya (sebagaimana dikemukakan Margiyono yang mewakili AJI dalam dialog di TV-One – Januari 2010), karena mereka tidak menyiarkan informasi publik. Sayangnya, Margiyono “kesulitan” mendefinisikan “apa yang dimaksud dengan informasi publik?”

Sebenarnya siapa yang berhak disebut wartawan sudah jelas dalam UU No. 40/1999 tentang Pers, Bab I, Pasal 1 (4) yaitu: “orang yang secara teratur melaksanakan kegiatan jurnalistik”. Kegiatan Jurnalistik (Pasal 4 ayat 3): “mencari, memperoleh, dan menyebarluaskan gagasan dan informasi”. Dengan demikian, wajar jika wartawan infotainment mengaku sebagai wartawan karena mereka juga melakukan kegiatan sebagaimana diatur dalam UU Pers tersebut. Persoalannya, tidaklah sesedehana itu untuk menyandang profesi wartawan, karena UU No 40/99 Pasal 7 (2) menyatakan: “wartawan memiliki dan menaati kode etik jurnalistik”.

Persoalan inilah sebenarnya yang menjadi alasan banyak pihak tidak mengakui wartawan infotainment, karena dianggap sering mengabaikan kode etik jurnalistik. Tapi, kalau masalah itu yang diributkan, timbul pertanyaan: Apakah semua orang yang mengaku wartawan layak disebut wartawan? Bukankah berdasarkan penelitain Dewan Pers, 75% wartawan sekarang tidak memahami Kode Etik?

Dengan demikian, seharusnya kita tidak lagi meributkan keberadaan wartawan infotainment, karena mereka itu nyata ada di tengah kita. Apalagi di zaman sekarang, saat banyak peristiwa politik, ekonomi, hukum, bahkan agama hanya merupakan dagelan, maka mau tidak mau, wartawan pun harus meliput peristiwa dagelan dan menjadi “wartawan hiburan” he……

Continue reading...